POK TUNGGAL : MENEMUKAN KEINDAHAN TERSEMBUNYI DI GUNUNGKIDUL

IMG_0216
Seperti janji saya setelah melakukan kunjungan pertama ke Gunungkidul, saya kembali mendatangi Kabupaten Gunungkidul karena masih penasaran dengan pantai-pantai ‘perawannya’ yang tak kalah indahnya dengan pantai-pantai di pulau dewata Bali. Untuk kunjungan kali ini saya memilih pantai Pok Tunggal yang disebut-sebut sebagai “Hidden Paradise” di Gunungkidul, lokasinya sebelum pantai Indrayanti jika lewat dari arah kecamatan Tepus, dan sesudah pantai Indrayanti jika melalui kecamatan Tanjungsari atau dari arah pantai Baron. Sebenarnya awal saya menjelajah Gunungkidul di postingan ini, saya sudah pingin sekali ke pantai Pok Tunggal, namun Pak Yanto,supir mobil rental yang saya sewa di @liburanjogja tidak menyarankan karena medan yang dilalui sejauh kurang lebih 2km dengan lebar jalan yang hanya cukup satu mobil saja dan belum beraspal(kadang-kadang berlumpur jika musim hujan) serta menanjak di beberapa ruasnya. Entah mengapa akhirnya Pak Yanto meng’iya’kan ajakan saya ke pantai Pok Tunggal, mungkin karena beliau sungkan pada rombongan kami yang sudah dua kali memakai jasanya sebagai supir sekaligus guide kami. Mungkin karena jalan menuju pantai ini yang sangat rusak dan sempit itulah pantai Pok Tunggal jadi sepi karena jarang ada yang mengunjungi. Akhirnya kami meluncur dengan mobil Toyota Avanza menuju Kecamatan Tepus,Gunungkidul setelah menjajal cave tubing di Gua Kalisuci yang terletak di Kecamatan Semanu,Gunungkidul, postingannya ada di sini. Tepat di depan jalan masuk Pantai Pok Tunggal ada papan kecil bertuliskan Pok Tunggal yang mengarah ke jalan yang tak beraspal. Pak Yanto mengemudikan mobil dengan hati-hati. Kurang lebih lima belas menit dari papan petunjuk di depan tadi kami sampailah kami di parkiran pantai. Kami tidak langsung berkeliling pantai, tapi singgah dulu di warung untuk sekedar menikmati segarnya es kelapa muda. Di pantai Pok Tunggal sudah terdapat beberapa warung, toilet untuk bilas, serta banyak ibu-ibu yang menyewakan matras lengkap dengan payungnya bagi yang ingin leyeh-leyeh membunuh waktu hingga sore menjelang untuk menyaksikan sunset di pantai ini. Setelah leyeh-leyeh di warung tadi, kami langsung bermain ombak persisi seperti anak kecil 😀 saya sendiri sibuk mengabadikan setiap sudut pantai Pok Tunggal. Suasana pantai yang sangat sepi ditambah pemandangan pasir putih berpadu dengan birunya air laut sangat kontras dengan langit sore yang membiru itu, membuat saya tak henti-hentinya memencet shutter kamera saya. Tapi saya pun tak tahan melihat teman-teman saya yang bermain ombak seperti hari esok sudah tiada.

bermain ombak

bermain ombak


Pemandangan di sekitar pantai

Pemandangan di sekitar pantai


'jump' pose wajib

‘jump’ pose wajib


segernyaaaaa

segernyaaaaa


lumayan sepi dan bersih

lumayan sepi dan bersih

bermain ombak yang tiada habisnya

bermain ombak yang tiada habisnya


Garis pantai Pok Tunggal tidaklah panjang, di pojok kiri dan kanan terdapat karang yang bisa dinaiki namun cukup tinggi, sehingga saya malas naik ke atas bukit karang tersebut, maklum kami tidak punya banyak waktu, mungkin next time. Matahari perlahan menepi air laut juga mulai pasang, jam sudah menunjukan pukul lima sore saatnya kami mandi membersihka badan dari pasir yang menempel di kulit. Setelah mandi dan ganti baju barulah kami narsis di pohon (lupa namanya) yang menjadi ciri khas pantai ini, setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Jogjakarta untuk mencoba kuliner di Raminten Resto, yang terkenal miring harganya setelah perut sedah terisi, lanjut jalan-jalan ke Malioboro untuk belanja oleh-oleh. Barulah sekitar jam sebelas malam kami berada di flyover Janti tempat kami menunggu Bis jurusan Surabaya.
hidangan di Rumah Makan Raminten

hidangan di Rumah Makan Raminten

sebelum meninggalkan lokasi, take a photo!!!

sebelum meninggalkan lokasi, take a photo!!!

NUANSA BALI DI PANTAI NGOBARAN, GUNUNG KIDUL

Pura di Pantai Ngobaran
GunungKidul memang tiada habisnya untuk dijelajahi, terutama pantai-pantainya yang mempunyai ciri khas masing-masing. Setelah seorang teman merengek minta diajakin kalau Saya lagi traveling, Saya pun akhirnya mengajak dua teman Saya, Dony dan Rio sangat yang penasaran dengan eksotisme pantai-pantai di GunungKidul. Setelah beberapa hari berdiskusi tentang rencana dan waktu yang pas, pada tanggal 27 November 2013 kami memutuskan untuk berangkat dari Surabaya malam hari agar besok paginya kami sudah siap jalan-jalan mengunjungi pantai-pantai di GunungKidul. Saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di pantai Ngobaran yang dihiasi dengan tebing-tebing cantik dan pura. Perjalanan menempuh kurang lebih satu setengah jam dari pusat Kota Jogja dengan mengendarai motor sewaan di Resmile menuju Desa Kanigoro, GunungKidul, Jogjakarta. Akses menuju pantai Ngobaran sangatlah mudah jalan aspal sudah mulus, papan petunjuk arah banyak ditemukan jadi jangan takut nyasar,hehehe. Fasilitas di pantai ini sudah lumayan komplit, mulai dari lahan parkir, toilet, dan warung-warung serta mushola mudah ditemukan di lokasi pantai.
IMG_0079
Patung-patung yang menghiasi Pantai Ngobaran
Tebing pantai Ngobaran
Sebenarnya pantai Ngobaran berada di balik tebing yang dibangun pura serta patung-patung khas Hindu, jadi untuk kalian bisa menuruni anak tangga yang tidak begitu jauh dan tidak terlalu curam untuk sampai di area bawah. Namun sayangnya pantai Ngobaran tidak mempunyai pasir putih seperti pantai pada umumnya, meski begitu pantai ini tetap terlihat menawan akan tebing dan karangnya yang unik bentuknya. Pada saat air laut sedang surut kalian bisa berfoto di bawah tebing pantai ini, jika air laut sedang pasang kalian hanya bisa menikmati pantai ini dari pura tadi. beruntunglah Saya bersama dua teman Saya tadi waktu ke sini air laut sedang surut, kami pun menyempatkan diri untuk menuruni anak tangga yang mengarah ke bagian paling bawah pantai Ngobaran. Suasana waktu itu sangat sepi, ini terlihat dengan adanya motor kami dan beberapa motor pengunjung seusia kami. Ya, kami beruntung bisa puas menikmati suasana pantai yang sepi karena kami ke sana bukan pas saat weekend. Menurut warga setempat jika hari libur pantai Ngobaran ramai diserbu wisatawan. Hari semakin terik, matahari mulai meninggi, dan kami memutuskan untuk naik ke lokasi atas mencari warung sekedar membeli es kelapa muda untuk menghilangkan dehidrasi dan beristirahat sejenak sebelum mengunjungi pantai Nguyahan yang bersebelahan dengan pantai Ngobaran. Kami mendapatkan informasi dari warga setempat tentang pantai Nguyahan, karena bila kalian dari lokasi parkir tidak akan terlihat pantai Nguyahan tersebut. Lokasi pantai Nguyahan sama seperti pantai Ngobaran yaitu di dataran yang lebih landai. Hanya berjalan kaki sekitar tidak lebih dari lima menit dari pantai Ngobaran kami sudah dapat malihat pemandangan pantai Nguyahan yang kondisinya lebih sepi dibanding pantai Ngobaran. Namun panasnya terik matahari membuat kami bertiga enggan untuk berjalan sampai bibir pantai Nguyahan, kami hanya duduk-duduk di sebuah gubuk, dari gubuk inilah kami bisa memandang landskap pantai Nguyahan yang awesome. Untuk mengunjungi Pantai Ngobaran serta pantai Nguyahan sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi, karena belum adanya angkutan umum yang menuju tempat wisata ini.
IMG_0060

Pemandangan pantai Nguyahan

GUNUNG KIDUL : Jatuh Cinta Pada Kunjungan Pertama

Pantai Indrayanti yang sepi dan bersih

Pantai Indrayanti yang sepi dan bersih


Bosan dengan Jogja yang gitu-gitu aja saya akhirnya penasaran alternatif wisata di Jogjakarta selain candi, keraton, dan malioboro. Setelah googling sanasini saya terkejut dengan salah satu website yaitu yogyes.com, ternyata pantai di Jogja tidak hanya di Kabupaten Bantul saja, seperti Parangtritis, Depok, dan Parangkusumo. Di Kabupaten Gunung Kidul ternyata tersembunyi pantai-pantai yang indah dan masih perawan. Penasaran, saya beri tau kawan saya tempat wisata di Gunung Kidul tadi, ternyata saya sukses membuat kawan saya ikut penasaran. Akhirnya setelah waktunya tiba, tanggal 9 Januari 2013 saya beserta lima kawan saya sepakat berangkat ke Jogja setelah pulang dari kerja masing-masing. Sebelumnya saya sudah reservasi mobil sehari sebelumnya di @liburanjogja yang infonya saya dapat di twitter dengan biaya 275rb sudah termasuk sopir tapi belum bensin, cukup murah bukan ?. Sekitar pukul 11 malam kami merapat di terminal Purabaya, Surabaya. Saya, Dila, Panjul (bukan nama sebenarnya) yang mengajak temannya, dan Arifin yang mengajak ceweknya semua sudah berkumpul. Perjalanan dari Surabaya ke Jogja dengan bus Sugeng Rahayu (d/h Sumber Kencono) memakan waktu kurang lebih enam jam. Benar sekali tepat jam 05.30 pagi kami sampai di pertigaan fly over Janti Jogjakarta. Kami memang sengaja tidak turun terminal Giwangan karena kami sepakat dijemput oleh mobil sewaan di depan Amplas. Sambil menunggu mobil jemputan yang datang jam 08.00 pagi, kami mencari sarapan dan istirahat sejenak di tempat kos pacar temannya Panjul, tempat kosnya persis di sebelah Amplas ada gang menuju pasar (lupa nama pasarnya). Jam 08.00 mobil sewaan kami sudah menunggu di depan Amplas. Setelah berdiskusi tempat mana saja yang akan kami kunjungi, pilihan jatuh pada pantai Indrayanti atau disebut juga pantai pulang syawal dan gua Pindul yang juga membuat penasaran kami merasakan sensasi cave tubing di sana.
Pantai Indrayanti

Pantai Indrayanti


wajib narsis sebelum masuk Gua Pindul

wajib narsis sebelum masuk Gua Pindul


Perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam menuju pantai Indrayanti. Cuaca waktu itu mendung sempat gerimis juga untunglah cuma sebentar. Pasir putih di pantai Indrayanti sangat bersih dan halus, dan pantai ini juga bebas dari sampah, jelas saja tidak ada yang berani buang sampah, lhaa jika ketahuan akan didenda 10rb rupiah, bayangkan jika dikalikan jumlah sampah yang kita buang sembarangan.
personil yang ikut

personil yang ikut


Pemandangan Pantai Indrayanti dari atas bukit

Pemandangan Pantai Indrayanti dari atas bukit

Setelah puas basah-basahan di pantai, perjalanan kami lanjutkan menuju gua Pindul. Untuk wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan masuk ke gua Pindul, tidak tau pasti apa alasannya. Kami menelusuri gua Pindul hanya berlima saja dikarenakan ceweknya temannya Panjul sedang ‘datang bulan’, otomatis cowoknya juga gak ikut jadi hanya nunggu saja sambil cari makan siang di warung. Panjang lintasan cave tubing gua Pindul kurang lebih 400 meteran ditempuh sekitar 45 menit jika sambil narsis di dalam gua :p . Pada hari itu gua Pindul juga ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Selesai menyusuri gua kami mandi, di gua Pindul sudah disediakan toilet yang jumlahnya lumayan banyak.

Siap basah-basahan

Siap basah-basahan


Cave Tubing Gua Pindul

Cave Tubing Gua Pindul

Puas sudah bisa menjajal caving gua Pindul yang hanya membayar 35ribu per orang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali ke kota Jogja untuk sekedar membeli oleh-oleh di sekitaran Malioboro. Belanja olehI-oleh kaos khas Jogja dan tidak lupa juga Bakpia yang kami beli langsung di pabriknya. Hari sudah mulai malam kami memutuskan naik Transjogja yang menuju jalan Janti tempat kami menyegat bus jurusan Surabaya. Sungguh rasa lelah bercampur senang karena puas mengunjungi wisata alam di Gunung Kidul walau hanya satu hari saja namun rasanya MANTAP !!! Saya berjanji suatu waktu nanti saya akan eksplor lagi Gunung Kidul.

IMG_0014