GAGAL KE JOMBLANG ‘HANYUT’ DI KALISUCI

IMG_0066
Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang sensasi tubing di Gua Pindul, di postingan kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman tubing di gua yang tak kalah serunya(bahkan lebih seru,mungkin). Sebenarnya masih banyak gua-gua di kabupaten Gunungkidul sebab, di kabupaten ini terbentang pegunungan karst yaitu pegunungan sewu yang membentang dari Gunungkidul,Jogjakarta sampai Pacitan,Jawa Timur. Di Kecamatan Semanu Kabupaten Gunungkidul terdapat Gua Jomblang yang terkenal dengan ‘cahaya surga’nya yang menerobos dari celah-celah dedaunan menuju ke bawah gua. Gua Jomblang adalah goa vertikal sedalam 60 meter yang dibawahnya terdapat Goa Grubug. Untuk menuruni Gua Jomblang harus menggunakan tekhnik tali tunggal atau Single Rope Technique(SRT) yang dipandu oleh operator. Saya bersama tiga teman saya berniat menuruni Gua Jomblang tersebut, namun dengan minimnya informasi tentang lokasi dan bagaimana prosedurnya untuk bisa caving di Gua Jomblang rencana melihat ‘cahaya surga’ di gua tersebut gatot. Lokasi sudah ketemu dengan informasi dari beberapa penduduk setempat yang sempat kami tanya-tanyai. Memang belum ada penunjuk arah untuk menuju lokasi Gua Jomblang. Dengan menggunakan mobil rental beserta supirnya(yang sekaligus menjadi guide selama perjalanan di Gunungkidul) kami mengarah ke Kecamatan Semanu Kab.Gunungkidul. Setelah bertemu pasar Semanu kami bertanya-tanya kepada penduduk sekitar tentang lokasi Gua Jomblang dan Gua Kalisuci. Dari bekal informasi yang kami dapat tadi, mobil diarahkan masuk ke dalam perkebunan singkong yang jalanan tidak beraspal dan berbatu,di sini sudah tidak kami temukan rumah warga. Kami semakin bingung, apa mungkin lokasi gua itu ada di tempat seperti ini? Dan akhirnya bertanyalah kami pada seorang warga yang sedang berkebun akhirnya kami menemukan sebuah bangunan villa. Ya benar sekali Gua Jomblang berada persis di belakang villa tersebut, setelah berjalan melewati villa itu kami melihat lubang menganga besar dengan diameter sekitar lima puluh meter,wow!!! Tak ada seorangpun selain rombongan saya, akhirnya datanglah seorang dengan membawa peralatan caving lengkap. Ternyata mas itu salah seorang pemandu yang sedang menunggu untuk menaikkan tamu yang turun di bawah Gua Jomblang. Kami bertanya mengenai bagaimana untuk bisa masuk ke Gua Jomblang, serta berapa biayanya. Mas tersebut bilang, kalau mau masuk ke Gua Jomblang harus reservasi dulu minimal sehari sebelumnya, dan yang bikin kaget kami adalah biayanya operator tersebut mematok harga 450 ribu rupiah per orang, tentu harga segitu adalah harga yang cukup mahal bagi saya. Mungkin jika saya benar-benar sudah turun ke dalam Gua Jombang, saya baru bisa berkata harga 450 ribu tadi sebanding dengan apa yang saya saksikan di dalam perut bumi. Sayangnya kami berempat gagal masuk ke Gua Jomblang karena operator hanya memberangkatkan dua kali dalam sehari, namun tak apalah setidaknya saya sudah dapat informasi yang cukup untuk kunjungan selanjutnya ke sini.

cuma bisa narsis di mulut gua

cuma bisa narsis di mulut gua

Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Gua Kalisuci untuk merasakan jeram di dalam gua. Gua Kalisuci letaknya tidak jauh dari Gua Jomblang, tak lebih dari sepuluh menit kami sudah berada di rumah warga yang dijadikan semacam basecamp pendaftaran tubing di Kalisuci. Waktu itu kami dipatok harga 65 ribu rupiah per orang dengan fasilitas ban karet, rompi pelampung/life jacket serta alas kaki sayangnya operator hanya mau memberangkatkan minimal enam orang, padahal kami hanya empat orang. Setelah negosiasi kami berangkat dengan membayar jumlah enam orang, jumlah minimum peserta tadi. Jadi walaupun kami berempat kami membayar untuk enam orang. Kegiatan cave tubing dipandu tiga remaja desa setempat. Kami berjalan menuruni jalan setapak untuk sampai dilokasi start caving Gua Kalisuci. Tubing di Gua Kalisuci ini panjangnya sekitar satu setengah kilometer dengan melewati tiga gua dan perjalanan ditempuh satu jam setengah itu sudah termasuk buat foto-foto narsis :D. Setelah cave tubing selesai kamipun harus trekking dengan jalan yang menanjak untuk menuju basecamp tadi. Ternyata harga 65 ribu per orang tadi sudah termasuk mi instan plus teh hangat yang dihidangkan setelah cave tubing. Sungguh harga yang murah bukan??? Kalian harus mencobanya jika berlibur di Jogjakarta. Setelah membilas tubuh dan ganti pakaian kami lanjutkan perjalanan menuju pantai Pok Tunggal. Baca di postingan ini.

full team \m/

full team \m/


siap memulai 'pertunjukan'

siap memulai ‘pertunjukan’


ke Kalisuci wajib berhenti dan foto di sini

ke Kalisuci wajib berhenti dan foto di sini

IMG_0128

jalan kembali nanjak setelah cave tubing

jalan kembali nanjak setelah cave tubing


Me after tubing

Me after tubing

IMG_0140

POK TUNGGAL : MENEMUKAN KEINDAHAN TERSEMBUNYI DI GUNUNGKIDUL

IMG_0216
Seperti janji saya setelah melakukan kunjungan pertama ke Gunungkidul, saya kembali mendatangi Kabupaten Gunungkidul karena masih penasaran dengan pantai-pantai ‘perawannya’ yang tak kalah indahnya dengan pantai-pantai di pulau dewata Bali. Untuk kunjungan kali ini saya memilih pantai Pok Tunggal yang disebut-sebut sebagai “Hidden Paradise” di Gunungkidul, lokasinya sebelum pantai Indrayanti jika lewat dari arah kecamatan Tepus, dan sesudah pantai Indrayanti jika melalui kecamatan Tanjungsari atau dari arah pantai Baron. Sebenarnya awal saya menjelajah Gunungkidul di postingan ini, saya sudah pingin sekali ke pantai Pok Tunggal, namun Pak Yanto,supir mobil rental yang saya sewa di @liburanjogja tidak menyarankan karena medan yang dilalui sejauh kurang lebih 2km dengan lebar jalan yang hanya cukup satu mobil saja dan belum beraspal(kadang-kadang berlumpur jika musim hujan) serta menanjak di beberapa ruasnya. Entah mengapa akhirnya Pak Yanto meng’iya’kan ajakan saya ke pantai Pok Tunggal, mungkin karena beliau sungkan pada rombongan kami yang sudah dua kali memakai jasanya sebagai supir sekaligus guide kami. Mungkin karena jalan menuju pantai ini yang sangat rusak dan sempit itulah pantai Pok Tunggal jadi sepi karena jarang ada yang mengunjungi. Akhirnya kami meluncur dengan mobil Toyota Avanza menuju Kecamatan Tepus,Gunungkidul setelah menjajal cave tubing di Gua Kalisuci yang terletak di Kecamatan Semanu,Gunungkidul, postingannya ada di sini. Tepat di depan jalan masuk Pantai Pok Tunggal ada papan kecil bertuliskan Pok Tunggal yang mengarah ke jalan yang tak beraspal. Pak Yanto mengemudikan mobil dengan hati-hati. Kurang lebih lima belas menit dari papan petunjuk di depan tadi kami sampailah kami di parkiran pantai. Kami tidak langsung berkeliling pantai, tapi singgah dulu di warung untuk sekedar menikmati segarnya es kelapa muda. Di pantai Pok Tunggal sudah terdapat beberapa warung, toilet untuk bilas, serta banyak ibu-ibu yang menyewakan matras lengkap dengan payungnya bagi yang ingin leyeh-leyeh membunuh waktu hingga sore menjelang untuk menyaksikan sunset di pantai ini. Setelah leyeh-leyeh di warung tadi, kami langsung bermain ombak persisi seperti anak kecil 😀 saya sendiri sibuk mengabadikan setiap sudut pantai Pok Tunggal. Suasana pantai yang sangat sepi ditambah pemandangan pasir putih berpadu dengan birunya air laut sangat kontras dengan langit sore yang membiru itu, membuat saya tak henti-hentinya memencet shutter kamera saya. Tapi saya pun tak tahan melihat teman-teman saya yang bermain ombak seperti hari esok sudah tiada.

bermain ombak

bermain ombak


Pemandangan di sekitar pantai

Pemandangan di sekitar pantai


'jump' pose wajib

‘jump’ pose wajib


segernyaaaaa

segernyaaaaa


lumayan sepi dan bersih

lumayan sepi dan bersih

bermain ombak yang tiada habisnya

bermain ombak yang tiada habisnya


Garis pantai Pok Tunggal tidaklah panjang, di pojok kiri dan kanan terdapat karang yang bisa dinaiki namun cukup tinggi, sehingga saya malas naik ke atas bukit karang tersebut, maklum kami tidak punya banyak waktu, mungkin next time. Matahari perlahan menepi air laut juga mulai pasang, jam sudah menunjukan pukul lima sore saatnya kami mandi membersihka badan dari pasir yang menempel di kulit. Setelah mandi dan ganti baju barulah kami narsis di pohon (lupa namanya) yang menjadi ciri khas pantai ini, setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Jogjakarta untuk mencoba kuliner di Raminten Resto, yang terkenal miring harganya setelah perut sedah terisi, lanjut jalan-jalan ke Malioboro untuk belanja oleh-oleh. Barulah sekitar jam sebelas malam kami berada di flyover Janti tempat kami menunggu Bis jurusan Surabaya.
hidangan di Rumah Makan Raminten

hidangan di Rumah Makan Raminten

sebelum meninggalkan lokasi, take a photo!!!

sebelum meninggalkan lokasi, take a photo!!!

NUANSA BALI DI PANTAI NGOBARAN, GUNUNG KIDUL

Pura di Pantai Ngobaran
GunungKidul memang tiada habisnya untuk dijelajahi, terutama pantai-pantainya yang mempunyai ciri khas masing-masing. Setelah seorang teman merengek minta diajakin kalau Saya lagi traveling, Saya pun akhirnya mengajak dua teman Saya, Dony dan Rio sangat yang penasaran dengan eksotisme pantai-pantai di GunungKidul. Setelah beberapa hari berdiskusi tentang rencana dan waktu yang pas, pada tanggal 27 November 2013 kami memutuskan untuk berangkat dari Surabaya malam hari agar besok paginya kami sudah siap jalan-jalan mengunjungi pantai-pantai di GunungKidul. Saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di pantai Ngobaran yang dihiasi dengan tebing-tebing cantik dan pura. Perjalanan menempuh kurang lebih satu setengah jam dari pusat Kota Jogja dengan mengendarai motor sewaan di Resmile menuju Desa Kanigoro, GunungKidul, Jogjakarta. Akses menuju pantai Ngobaran sangatlah mudah jalan aspal sudah mulus, papan petunjuk arah banyak ditemukan jadi jangan takut nyasar,hehehe. Fasilitas di pantai ini sudah lumayan komplit, mulai dari lahan parkir, toilet, dan warung-warung serta mushola mudah ditemukan di lokasi pantai.
IMG_0079
Patung-patung yang menghiasi Pantai Ngobaran
Tebing pantai Ngobaran
Sebenarnya pantai Ngobaran berada di balik tebing yang dibangun pura serta patung-patung khas Hindu, jadi untuk kalian bisa menuruni anak tangga yang tidak begitu jauh dan tidak terlalu curam untuk sampai di area bawah. Namun sayangnya pantai Ngobaran tidak mempunyai pasir putih seperti pantai pada umumnya, meski begitu pantai ini tetap terlihat menawan akan tebing dan karangnya yang unik bentuknya. Pada saat air laut sedang surut kalian bisa berfoto di bawah tebing pantai ini, jika air laut sedang pasang kalian hanya bisa menikmati pantai ini dari pura tadi. beruntunglah Saya bersama dua teman Saya tadi waktu ke sini air laut sedang surut, kami pun menyempatkan diri untuk menuruni anak tangga yang mengarah ke bagian paling bawah pantai Ngobaran. Suasana waktu itu sangat sepi, ini terlihat dengan adanya motor kami dan beberapa motor pengunjung seusia kami. Ya, kami beruntung bisa puas menikmati suasana pantai yang sepi karena kami ke sana bukan pas saat weekend. Menurut warga setempat jika hari libur pantai Ngobaran ramai diserbu wisatawan. Hari semakin terik, matahari mulai meninggi, dan kami memutuskan untuk naik ke lokasi atas mencari warung sekedar membeli es kelapa muda untuk menghilangkan dehidrasi dan beristirahat sejenak sebelum mengunjungi pantai Nguyahan yang bersebelahan dengan pantai Ngobaran. Kami mendapatkan informasi dari warga setempat tentang pantai Nguyahan, karena bila kalian dari lokasi parkir tidak akan terlihat pantai Nguyahan tersebut. Lokasi pantai Nguyahan sama seperti pantai Ngobaran yaitu di dataran yang lebih landai. Hanya berjalan kaki sekitar tidak lebih dari lima menit dari pantai Ngobaran kami sudah dapat malihat pemandangan pantai Nguyahan yang kondisinya lebih sepi dibanding pantai Ngobaran. Namun panasnya terik matahari membuat kami bertiga enggan untuk berjalan sampai bibir pantai Nguyahan, kami hanya duduk-duduk di sebuah gubuk, dari gubuk inilah kami bisa memandang landskap pantai Nguyahan yang awesome. Untuk mengunjungi Pantai Ngobaran serta pantai Nguyahan sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi, karena belum adanya angkutan umum yang menuju tempat wisata ini.
IMG_0060

Pemandangan pantai Nguyahan