GUNUNG PRAU 2565mdpl PUNCAK TERTINGGI DIENG

hdr_1407911141443

Gunung Prau terletak di beberapa kabupaten di Jawa Tengah diantaranya Wonosobo,Kendal,dan Batang. Gunung ini terkenal dengan bukit teletubiesnya yang tidak kalah indah dengan bukit teletubies di Gunung Bromo di Jawa Timur. Keinginan untuk mendaki ke puncak Prau sebenarnya berawal dari catatan perjalanan yang Saya baca di postingan blog punya teman dan beberapa foto yang diupload di berbagai halaman atau grup komunitas pendaki di facebook.

suasana basecamp Patak Banteng

suasana basecamp Patak Banteng

Desa Patak Banteng dari kejahuan

Desa Patak Banteng dari kejahuan

mbak ini baru jalan sebentar sudah minta break

mbak ini baru jalan sebentar sudah minta break

Dan akhirnya kesempatan datang setelah Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tepatnya tanggal 6 Agustus 2014 Saya dan tiga teman Saya berangkat dari kota Surabaya pada pukul sepuluh malam menggunakan bus ekonomi menuju Jogja. Setelah sampai Jogja pada pukul setengah enam pagi kami langsung lanjut menuju Magelang menggunakan bus ekonomi Sumber Waras. Perjalanan dari terminal Giwangan ke terminal Tidar Magelang memakan waktu sekitar satu setengah jam, dalam perjalanan di dalam bis Saya gunakan untuk tidur karena perjalanan sangat panjang dari Surabaya ke Wonosobo. Sampai di terminal Tidar kami menuju Wonosobo dengan bus mini dengan tarif dua puluh ribu rupiah sampai di terminal Mendolo Wonosobo, perjalanan menempuh waktu dua jam. Di terminal Mendolo kami istirahat sebentar di sebuah warung untuk sarapan dan ngopi setelah setengan jam berlalu kami lanjut menaiki bus mini lagi menuju jalan Kauman untuk pindah ke bus jurusan Batur Banjarnegara, jadi total kami ganti bus hingga lima kali.

Tepat di gapura bertuliskan ‘Kawasan Dieng Plateau’ kami berempat turun dari bus mini jurusan Batur, di depan gapura tersebut kami menjalankan ‘ritual’ narsis secara bergantian. Puas narsis kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp pendakian gunung Prau yang berada di belakang balai desa Patak Banteng. Kurang lebih sepuluh menit berlalu kami tiba di basecamp, registrasi hanya membayar empat ribu rupiah saja per orang, di basecamp juga banyak pendaki yang berasal dari berbagai daerah, mereka juga akan naik ke gunung Prau sore ini. Urusan registrasi selesai kami beranjak mencari warung untuk mengisi perut kami yang sudah mulai keroncongan, setelah itu barulah kami menuju jalur pendakian melewati rumah-rumah warga hingga perkebunan. Sambil berjalan sesekali Saya mengeluarkan kamera untuk mengabadikan perjalanan menggapai puncak gunung Prau. Tak lama berjalan dengan tanjakan yang lumayan miring kabut tebal datang disertai rintik hujan. Kondisi tersebut memaksa kami mengenakan jas hujan hingga di pos 2 (canggal walangan). Setelah pos 2 kami sudah tidak memakai jas hujan karena hujan mulai reda. Hari sudah mulai gelap ketika kami melanjutkan perjalanan dari pos 2 menuju camp area, senter pun kami nyalakan. Beberapa meter sebelum sampai di camp area kabut tebal disertai angin kencang menyelimuti kami dan menyisakan jarak pandang yang hanya 2-3 meter saja.

Pos 2 / Canggal Walangan

Pos 2 / Canggal Walangan

Pukul tujuh malam tepat kami sampai di camping ground gunung prau, rencana kami membagi tugas untuk mendirikan tenda dan masak gagal dikarenakan hujan tiba-tiba mengguyur begitu saja tanpa permisi. Setelah tenda berdiri dengan kokoh kami berempat menyelamatkan diri masuk ke dalam hangatnya tenda. Tidak banyak yang kami lakukan selama di dalam tenda, maklum tenda yang Saya bawa hanya dianjurkan maksimal untuk tiga orang, kebayangkan jika tenda tersebut diisi empat orang?. Kami berempat pun mencoba memejamkan mata diantara dinginnya udara malam itu. Akhirnya hujan mulai reda pada pukul dua dini hari, teman Saya Rio langsung keluar dari tenda dan memasak mie untuk empat porsi serta memasak air untuk sekedar bikin kopi atau teh. Cuaca di luar kembali cerah tanpa kabut, jutaan bintang terlihat jelas di langit, namun sayang Saya tidak bawa tripod padahal Saya hobi banget mengabadikan Milkyway. Usai makan kami berempat mencoba lagi untuk terlelap di dalam tenda yang sangat sempit itu. Sebelum jam lima pagi Rio sudah bangun, dan mulai berisik membangunkan kami bertiga yang masih meringkuk dalam tenda untuk menyaksikan gonden sunrise gunung Prau yang memang luar biasa indahnya, menurut Saya sih lebih indah dibandingkan Sikunir. Saya waktu itu enggan bangun, hanya tiga teman Saya saja yang menyaksikan golden sunrise. Pukul enam pagi barulah Saya keluar dari tenda mengabadikan suasana pagi di puncak gunung Prau. Pemandangan spektakuler di depan mata, si kembar Sindoro-Sumbing dan Merapi-Merbabu seakan menyapa Saya dan teman-teman pendaki lain, Saya beruntung mendapatkan cuaca yang cerah tanpa kabut di pagi ini. Satu jam lebih saya menikmati dan mengabadikan pemandangan di camp area gunung Prau. Yang membuat Saya prihatin masih ada yang tidak membawa turun sampah bekas logistik di area camping ground Gunung Prau.

Landscape Gunung Prau

Landscape Gunung Prau

Full Team

Full Team

berjalan melewati bukit 'teletubies'

berjalan melewati bukit ‘teletubies’

savana (bukit teletubies)

savana (bukit teletubies)

Jam setengah delapan pagi kami packing dan berniat turun lewat jalur Dieng Kulon yang ada puncak menara repeater-nya. Berjalan melewati savana yang luas menyerupai bukit Teletubies, Saya berharap bertemu dengan Tingkywingky dan kawan-kawannya di tengah perjalanan *ngayal. Perjalanan turun melewati bukit teletubies begitu Saya nikmati, di setiap langkah kami berhenti sejenak untuk berfoto dengan latar belakang alam yang sangat indah ini. Jalur Dieng Kulon memang landai tidak seperti jalur Patak Banteng yang menanjak terjal, namun jalur Dieng Kulon ini memakan waktu yang lebih lama karena jalurnya yang memutar butuh waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai camp area. Sesampainya di bawah, tepatnya di desa Dieng Kulon kami mampir mencicipi kuliner khas Wonosobo yaitu Mie Ongklok.

Mie Ongklok khas Wonosobo

Mie Ongklok khas Wonosobo

Me

Me

Pemandangan Gunung Prau di pagi hari

Pemandangan Gunung Prau di pagi hari

GAGAL KE JOMBLANG ‘HANYUT’ DI KALISUCI

IMG_0066
Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang sensasi tubing di Gua Pindul, di postingan kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman tubing di gua yang tak kalah serunya(bahkan lebih seru,mungkin). Sebenarnya masih banyak gua-gua di kabupaten Gunungkidul sebab, di kabupaten ini terbentang pegunungan karst yaitu pegunungan sewu yang membentang dari Gunungkidul,Jogjakarta sampai Pacitan,Jawa Timur. Di Kecamatan Semanu Kabupaten Gunungkidul terdapat Gua Jomblang yang terkenal dengan ‘cahaya surga’nya yang menerobos dari celah-celah dedaunan menuju ke bawah gua. Gua Jomblang adalah goa vertikal sedalam 60 meter yang dibawahnya terdapat Goa Grubug. Untuk menuruni Gua Jomblang harus menggunakan tekhnik tali tunggal atau Single Rope Technique(SRT) yang dipandu oleh operator. Saya bersama tiga teman saya berniat menuruni Gua Jomblang tersebut, namun dengan minimnya informasi tentang lokasi dan bagaimana prosedurnya untuk bisa caving di Gua Jomblang rencana melihat ‘cahaya surga’ di gua tersebut gatot. Lokasi sudah ketemu dengan informasi dari beberapa penduduk setempat yang sempat kami tanya-tanyai. Memang belum ada penunjuk arah untuk menuju lokasi Gua Jomblang. Dengan menggunakan mobil rental beserta supirnya(yang sekaligus menjadi guide selama perjalanan di Gunungkidul) kami mengarah ke Kecamatan Semanu Kab.Gunungkidul. Setelah bertemu pasar Semanu kami bertanya-tanya kepada penduduk sekitar tentang lokasi Gua Jomblang dan Gua Kalisuci. Dari bekal informasi yang kami dapat tadi, mobil diarahkan masuk ke dalam perkebunan singkong yang jalanan tidak beraspal dan berbatu,di sini sudah tidak kami temukan rumah warga. Kami semakin bingung, apa mungkin lokasi gua itu ada di tempat seperti ini? Dan akhirnya bertanyalah kami pada seorang warga yang sedang berkebun akhirnya kami menemukan sebuah bangunan villa. Ya benar sekali Gua Jomblang berada persis di belakang villa tersebut, setelah berjalan melewati villa itu kami melihat lubang menganga besar dengan diameter sekitar lima puluh meter,wow!!! Tak ada seorangpun selain rombongan saya, akhirnya datanglah seorang dengan membawa peralatan caving lengkap. Ternyata mas itu salah seorang pemandu yang sedang menunggu untuk menaikkan tamu yang turun di bawah Gua Jomblang. Kami bertanya mengenai bagaimana untuk bisa masuk ke Gua Jomblang, serta berapa biayanya. Mas tersebut bilang, kalau mau masuk ke Gua Jomblang harus reservasi dulu minimal sehari sebelumnya, dan yang bikin kaget kami adalah biayanya operator tersebut mematok harga 450 ribu rupiah per orang, tentu harga segitu adalah harga yang cukup mahal bagi saya. Mungkin jika saya benar-benar sudah turun ke dalam Gua Jombang, saya baru bisa berkata harga 450 ribu tadi sebanding dengan apa yang saya saksikan di dalam perut bumi. Sayangnya kami berempat gagal masuk ke Gua Jomblang karena operator hanya memberangkatkan dua kali dalam sehari, namun tak apalah setidaknya saya sudah dapat informasi yang cukup untuk kunjungan selanjutnya ke sini.

cuma bisa narsis di mulut gua

cuma bisa narsis di mulut gua

Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Gua Kalisuci untuk merasakan jeram di dalam gua. Gua Kalisuci letaknya tidak jauh dari Gua Jomblang, tak lebih dari sepuluh menit kami sudah berada di rumah warga yang dijadikan semacam basecamp pendaftaran tubing di Kalisuci. Waktu itu kami dipatok harga 65 ribu rupiah per orang dengan fasilitas ban karet, rompi pelampung/life jacket serta alas kaki sayangnya operator hanya mau memberangkatkan minimal enam orang, padahal kami hanya empat orang. Setelah negosiasi kami berangkat dengan membayar jumlah enam orang, jumlah minimum peserta tadi. Jadi walaupun kami berempat kami membayar untuk enam orang. Kegiatan cave tubing dipandu tiga remaja desa setempat. Kami berjalan menuruni jalan setapak untuk sampai dilokasi start caving Gua Kalisuci. Tubing di Gua Kalisuci ini panjangnya sekitar satu setengah kilometer dengan melewati tiga gua dan perjalanan ditempuh satu jam setengah itu sudah termasuk buat foto-foto narsis :D. Setelah cave tubing selesai kamipun harus trekking dengan jalan yang menanjak untuk menuju basecamp tadi. Ternyata harga 65 ribu per orang tadi sudah termasuk mi instan plus teh hangat yang dihidangkan setelah cave tubing. Sungguh harga yang murah bukan??? Kalian harus mencobanya jika berlibur di Jogjakarta. Setelah membilas tubuh dan ganti pakaian kami lanjutkan perjalanan menuju pantai Pok Tunggal. Baca di postingan ini.

full team \m/

full team \m/


siap memulai 'pertunjukan'

siap memulai ‘pertunjukan’


ke Kalisuci wajib berhenti dan foto di sini

ke Kalisuci wajib berhenti dan foto di sini

IMG_0128

jalan kembali nanjak setelah cave tubing

jalan kembali nanjak setelah cave tubing


Me after tubing

Me after tubing

IMG_0140

POK TUNGGAL : MENEMUKAN KEINDAHAN TERSEMBUNYI DI GUNUNGKIDUL

IMG_0216
Seperti janji saya setelah melakukan kunjungan pertama ke Gunungkidul, saya kembali mendatangi Kabupaten Gunungkidul karena masih penasaran dengan pantai-pantai ‘perawannya’ yang tak kalah indahnya dengan pantai-pantai di pulau dewata Bali. Untuk kunjungan kali ini saya memilih pantai Pok Tunggal yang disebut-sebut sebagai “Hidden Paradise” di Gunungkidul, lokasinya sebelum pantai Indrayanti jika lewat dari arah kecamatan Tepus, dan sesudah pantai Indrayanti jika melalui kecamatan Tanjungsari atau dari arah pantai Baron. Sebenarnya awal saya menjelajah Gunungkidul di postingan ini, saya sudah pingin sekali ke pantai Pok Tunggal, namun Pak Yanto,supir mobil rental yang saya sewa di @liburanjogja tidak menyarankan karena medan yang dilalui sejauh kurang lebih 2km dengan lebar jalan yang hanya cukup satu mobil saja dan belum beraspal(kadang-kadang berlumpur jika musim hujan) serta menanjak di beberapa ruasnya. Entah mengapa akhirnya Pak Yanto meng’iya’kan ajakan saya ke pantai Pok Tunggal, mungkin karena beliau sungkan pada rombongan kami yang sudah dua kali memakai jasanya sebagai supir sekaligus guide kami. Mungkin karena jalan menuju pantai ini yang sangat rusak dan sempit itulah pantai Pok Tunggal jadi sepi karena jarang ada yang mengunjungi. Akhirnya kami meluncur dengan mobil Toyota Avanza menuju Kecamatan Tepus,Gunungkidul setelah menjajal cave tubing di Gua Kalisuci yang terletak di Kecamatan Semanu,Gunungkidul, postingannya ada di sini. Tepat di depan jalan masuk Pantai Pok Tunggal ada papan kecil bertuliskan Pok Tunggal yang mengarah ke jalan yang tak beraspal. Pak Yanto mengemudikan mobil dengan hati-hati. Kurang lebih lima belas menit dari papan petunjuk di depan tadi kami sampailah kami di parkiran pantai. Kami tidak langsung berkeliling pantai, tapi singgah dulu di warung untuk sekedar menikmati segarnya es kelapa muda. Di pantai Pok Tunggal sudah terdapat beberapa warung, toilet untuk bilas, serta banyak ibu-ibu yang menyewakan matras lengkap dengan payungnya bagi yang ingin leyeh-leyeh membunuh waktu hingga sore menjelang untuk menyaksikan sunset di pantai ini. Setelah leyeh-leyeh di warung tadi, kami langsung bermain ombak persisi seperti anak kecil 😀 saya sendiri sibuk mengabadikan setiap sudut pantai Pok Tunggal. Suasana pantai yang sangat sepi ditambah pemandangan pasir putih berpadu dengan birunya air laut sangat kontras dengan langit sore yang membiru itu, membuat saya tak henti-hentinya memencet shutter kamera saya. Tapi saya pun tak tahan melihat teman-teman saya yang bermain ombak seperti hari esok sudah tiada.

bermain ombak

bermain ombak


Pemandangan di sekitar pantai

Pemandangan di sekitar pantai


'jump' pose wajib

‘jump’ pose wajib


segernyaaaaa

segernyaaaaa


lumayan sepi dan bersih

lumayan sepi dan bersih

bermain ombak yang tiada habisnya

bermain ombak yang tiada habisnya


Garis pantai Pok Tunggal tidaklah panjang, di pojok kiri dan kanan terdapat karang yang bisa dinaiki namun cukup tinggi, sehingga saya malas naik ke atas bukit karang tersebut, maklum kami tidak punya banyak waktu, mungkin next time. Matahari perlahan menepi air laut juga mulai pasang, jam sudah menunjukan pukul lima sore saatnya kami mandi membersihka badan dari pasir yang menempel di kulit. Setelah mandi dan ganti baju barulah kami narsis di pohon (lupa namanya) yang menjadi ciri khas pantai ini, setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Jogjakarta untuk mencoba kuliner di Raminten Resto, yang terkenal miring harganya setelah perut sedah terisi, lanjut jalan-jalan ke Malioboro untuk belanja oleh-oleh. Barulah sekitar jam sebelas malam kami berada di flyover Janti tempat kami menunggu Bis jurusan Surabaya.
hidangan di Rumah Makan Raminten

hidangan di Rumah Makan Raminten

sebelum meninggalkan lokasi, take a photo!!!

sebelum meninggalkan lokasi, take a photo!!!