Membuktikan Keindahan Sendang Gile dan Tiu Kelep

image

Speechless

Pagi itu jam 08.00 WITA setelah sarapan dengan sepotong roti dan segelas teh hangat yang disediakan ibu pemilik homestay, Saya bersiap menuju Kecamatan Bayan tepatnya di Desa Senaru Kabupaten Lombok Utara yang berada di kaki Gunung Rinjani. Di kawasan ini terdapat air terjun terindah di Lombok versi Saya.
Berangkat dari Cakranegara yang merupakan pusat Kota Mataram menggunakan motor matic yang Saya sewa di homestay tempat Saya menginap tadi. Perjalanan ke Bayan melewati pesisir pantai di Senggigi, Bukit Malimbu pntai Nipah lalu melewati Pemenang hingga menuju Kecamatan Bayan. Lebih kurang Saya tempuh perjalanan akhirnya sampai juga di depan pintu masuk air terjun Sendang Giledan Tiu Kelep. Walaupun matahari kala itu sangat menyengat namun udara di kaki Gunung Rinjani ini sangat segar dan sejuk bebas dari polusi.

image

Perjalanan menuju Bayan, tampak Rinjani di kejauhan

_DSC0520

Welcome to Waterfall

_DSC0535

Sendang Gile Waterfall

Setelah membayar biaya retribusi sebesar lima ribu rupiah per orang, saya melanjutkan trekking yang tidak sampai sepuluh menit sudah sampai di air terjun Sendang Gile. Tidak terlalu lama Saya di air terjun Sendang Gile ini setelah foto-foto sebentar saya melanjutkan trekking menuju air terjun Tiu Kelep. Saat menuju Tiu Kelep saya melewati jembatan yang sangat curam, setelah melewati jembatan tadi saya berjalan mnyusuri aliran sungai yang sangat jernih yang pangkalnya dari air terjun Tiu Kelep.

Narsis dulu

Narsis dulu

menyeberangi  aliran sungai yang lumayan deras

menyeberangi aliran sungai yang lumayan deras

 

narsis di atas jembatan bersama mbak ndu

narsis di atas jembatan bersama mbak ndu

Waktu saya ke Sendang Gile dan Tiu Kelep jarang saya bertemu wisatawan lokal, mayorits pengunjungnya adalah turis mancanegara. Kebanyakan dari turis tersebut memakai jasa guide lokal, menurut info yang saya dapatkan tarif untuk guide lokal di sini berkisar 60-100 ribu rupiah. Brhubung saya itu turis kere saya tidak menggunakan jasa guide lokal di sini. Jalan menuju ke Tiu Kelep sudah sangat jelas sekali tinggal mengikuti jalan setapak yang telah disediakan dan waktu yang diperlukan cuma lima belas menit-an. Kalau pun takut kesasar bisa cari barengan saja mengikuti rombongan bule šŸ˜€
PerjalananĀ  yang melelahkan tadi akan sirna dengan sendirinya,Ā  karena sampai di Tiu Kelep Saya dihadapkan dengan pemandangan yang spektakuler,fantstis,bombastis seperti kata Tukul Arwana, ya memang begitu adanya pemandangan air terjun Tiu Kelep sungguh indah, namun pengunjung perlu waspada kpda keselamatan diri anda karena aliran sungai sangat deras, kolam di bawah air terjun sangat dalam bagi yang tidak bisa berenang sangat TIDAK disarankan untuk mandi di bawah air terjun. Jika pengunjung ining berfoto dekat air terjun sebaiknya mnggunakan kamera yang water resist, karena air yang jatuh ke bawah berterbangan membuat kamera anda basah sesuai namanya ‘Tiu’ dalam bahasa Sasak berarti kolam sdangkan ‘Kelep’ berarti terbang.
image
image

Advertisements

SUNRISE YANG TERHALANG KABUT DI PENANJAKAN 2

_DSC9948

Lagi-lagi ada saja yang mengajak Saya ke Bromo di awal tahun 2014. Teman kerja Saya yang mengajaknya waktu itu. Bagi Saya sendiri gunung Bromo adalah gunung yang tidak pernah membuat Saya bosan untuk mengunjunginya walaupun sudah berkali-kali Saya ke sana. Bagi teman kerja Saya yang bernama Dimas, perjalanan kali ini adalah kunjungan pertamanya melihat gunung Bromo dari dekat, karena Saya dan empat teman Saya lainnya sudah pernah sebelumnya berkunjung ke Bromo. Kami berangkat berenam dari Surabaya menuju Probolinggo dengan menggunakan motor. Seperti biasa perjalanan kami lakukan pada malam hari untuk mengejar sunrise di penanjakan. Berangkat dari Surabaya pukul sebelas malam, dengan estimasi perjalanan memakan waktu empat jam, kami berharap sampai di Desa Cemoro lawang pukul tiga dini hari. Benar saja kami tiba di pertigaan Tongas,Probolinggo pukul satu lebih empat puluh lima menit setelah sebelumnya diguyur hujan saat melintasi Kota Sidoarjo. Sempat berhenti sebentar di sebuah warung tepat di sebelah masjid sebelum pertigaan Tongas tadi untuk sekedar ngopi dan beristirahat sejenak. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju penanjakan Bromo, rencananya kami akan melihat sunrise di penanjakan 2 Bromo desa Cemoro Lawang. Memasuki Cemoro Lawang kami dihadang oleh bapak-bapak pengemudi hardtop dan langsung ditawari hardtop seharga 600rb rupiah untuk dua lokasi favorit di Bromo yaitu bukit penanjakan dan kawah Gunung Bromo, namun setelah tawar menawar dengan alot akhirnya disepakati dengan harga 400b rupiah untuk dua spot tadi. Sebenarnya supir hardtop tadi menyarankan untuk melihat sunrise di penanjakan 1 namun kami menolaknya dengan alasan sudah pernah ke sana,dan kami memilih melihat sunrise di penanjakan 2. Pukul empat pagi hardtop berangkat menuju penanjakan 2 dengan kondisi jalan yang terjal dan tidak semulus paha Nikita Willy :p . Tiga puluh menit berlalu hardtop yang kami naiki sampai di pemberhentian terakhir di penanjakan 2 selanjutnya kami berlima harus jalan kaki untuk sampai Sruni Point, titik tertinggiĀ  untuk menyaksikan matahari terbit di penanjakan 2.
_DSC9868 _DSC9872
Berjalan sekitar lima belas menit(itu sudah termasuk foto-foto narsis lhoo) kami sampai di Seruni Point. Pagi itu sangat sepi hanya ada dua orang saja yang menggelar dagangannya dan tidak ada jasa rental kuda karena kami ke sana weekday bukan weeend jadi mayoritas wisatawan di Bromo ya orang bule. Tapi saya sangat senang karena dapat menikmati pemandangan alam dengan leluasa pagi itu, sayangnya kabut tebal yang disertai gerimis pagi itu menghalau sinar matahari yang hendak terbit. Pemandangan berkabut membuat kami tidak berlama-lama di penanjakan 2 ini, pukul setengah tujuh kami melanjutkan perjalanan menuju hamparan pasir Gunung Bromo dan Gunung Batok.

Pagi yang berkabut

Pagi yang berkabut

Sekitar lima belas menit perjalanan menggunakan hardtop dari penanjakan 2 kami sampai di area lautan pasir Gunung Bromo, kami berlima langsung disambut ‘satria’ berkuda. Tarif sewa kuda untuk mengantar anda ke anak tangga menuju Kawah Bromo berkisar 30-50 ribu rupiah tergantung keahlian anda dalam tawar menawar. Namun kami berlima tidak ada yamg menggunakan jasa kuda tersebut, kami lebih suka berjalan kaki karena lebih sehat alias ngirit šŸ˜€ .

There's no sunrise

There’s no sunrise

Saya berngkat menuju kawah Gunung Bromo sendirian karena empat teman saya sudah diserang rasa lelah plus ngantuk. Di kawasan padang pasir Bromo ini didominsi oleh wisatawan mancanegara, karna memang bukan weekend saya ke sini jadi hanya sedikit wisatawan lokal yamg berkunjung. Setelah sampai di puncak Gunung Bromo saya langsung turun karena bau asap belerang yang begitu menyengat dan membuat sulit bernafas.

Berikut ini adalah foto kenang – kenangan dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, silahkan menikmati:)

_DSC9896

Semburat jingga yang tertutup kabut, namun tetap indah

Misty Bromo

Misty morningĀ  Bromo

masih berkabut

masih berkabut šŸ˜¦

ray of light

ray of lightĀ 

ray of light

Sinar mntari mncoba menembus kabut

_DSC9936

Narsis waktu turun dari Penanjakan 2

_DSC9944

_DSC9953

empunya blog

GUNUNG PRAU 2565mdpl PUNCAK TERTINGGI DIENG

hdr_1407911141443

Gunung Prau terletak di beberapa kabupaten di Jawa Tengah diantaranya Wonosobo,Kendal,dan Batang. Gunung ini terkenal dengan bukit teletubiesnya yang tidak kalah indah dengan bukit teletubies di Gunung Bromo di Jawa Timur. Keinginan untuk mendaki ke puncak Prau sebenarnya berawal dari catatan perjalanan yang Saya baca di postingan blog punya teman dan beberapa foto yang diupload di berbagai halaman atau grup komunitas pendaki di facebook.

suasana basecamp Patak Banteng

suasana basecamp Patak Banteng

Desa Patak Banteng dari kejahuan

Desa Patak Banteng dari kejahuan

mbak ini baru jalan sebentar sudah minta break

mbak ini baru jalan sebentar sudah minta break

Dan akhirnya kesempatan datang setelah Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tepatnya tanggal 6 Agustus 2014 Saya dan tiga teman Saya berangkat dari kota Surabaya pada pukul sepuluh malam menggunakan bus ekonomi menuju Jogja. Setelah sampai Jogja pada pukul setengah enam pagi kami langsung lanjut menuju Magelang menggunakan bus ekonomi Sumber Waras. Perjalanan dari terminal Giwangan ke terminal Tidar Magelang memakan waktu sekitar satu setengah jam, dalam perjalanan di dalam bis Saya gunakan untuk tidur karena perjalanan sangat panjang dari Surabaya ke Wonosobo. Sampai di terminal Tidar kami menuju Wonosobo dengan bus mini dengan tarif dua puluh ribu rupiah sampai di terminal Mendolo Wonosobo, perjalanan menempuh waktu dua jam. Di terminal Mendolo kami istirahat sebentar di sebuah warung untuk sarapan dan ngopi setelah setengan jam berlalu kami lanjut menaiki bus mini lagi menuju jalan Kauman untuk pindah ke bus jurusan Batur Banjarnegara, jadi total kami ganti bus hingga lima kali.

Tepat di gapura bertuliskan ‘Kawasan Dieng Plateau’ kami berempat turun dari bus mini jurusan Batur, di depan gapura tersebut kami menjalankan ‘ritual’ narsis secara bergantian. Puas narsis kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp pendakian gunung Prau yang berada di belakang balai desa Patak Banteng. Kurang lebih sepuluh menit berlalu kami tiba di basecamp, registrasi hanya membayar empat ribu rupiah saja per orang, di basecamp juga banyak pendaki yang berasal dari berbagai daerah, mereka juga akan naik ke gunung Prau sore ini. Urusan registrasi selesai kami beranjak mencari warung untuk mengisi perut kami yang sudah mulai keroncongan, setelah itu barulah kami menuju jalur pendakian melewati rumah-rumah warga hingga perkebunan. Sambil berjalan sesekali Saya mengeluarkan kamera untuk mengabadikan perjalanan menggapai puncak gunung Prau. Tak lama berjalan dengan tanjakan yang lumayan miring kabut tebal datang disertai rintik hujan. Kondisi tersebut memaksa kami mengenakan jas hujan hingga di pos 2 (canggal walangan). Setelah pos 2 kami sudah tidak memakai jas hujan karena hujan mulai reda. Hari sudah mulai gelap ketika kami melanjutkan perjalanan dari pos 2 menuju camp area, senter pun kami nyalakan. Beberapa meter sebelum sampai di camp area kabut tebal disertai angin kencang menyelimuti kami dan menyisakan jarak pandang yang hanya 2-3 meter saja.

Pos 2 / Canggal Walangan

Pos 2 / Canggal Walangan

Pukul tujuh malam tepat kami sampai di camping ground gunung prau, rencana kami membagi tugas untuk mendirikan tenda dan masak gagal dikarenakan hujan tiba-tiba mengguyur begitu saja tanpa permisi. Setelah tenda berdiri dengan kokoh kami berempat menyelamatkan diri masuk ke dalam hangatnya tenda. Tidak banyak yang kami lakukan selama di dalam tenda, maklum tenda yang Saya bawa hanya dianjurkan maksimal untuk tiga orang, kebayangkan jika tenda tersebut diisi empat orang?. Kami berempat pun mencoba memejamkan mata diantara dinginnya udara malam itu. Akhirnya hujan mulai reda pada pukul dua dini hari, teman Saya Rio langsung keluar dari tenda dan memasak mie untuk empat porsi serta memasak air untuk sekedar bikin kopi atau teh. Cuaca di luar kembali cerah tanpa kabut, jutaan bintang terlihat jelas di langit, namun sayang Saya tidak bawa tripod padahal Saya hobi banget mengabadikan Milkyway. Usai makan kami berempat mencoba lagi untuk terlelap di dalam tenda yang sangat sempit itu. Sebelum jam lima pagi Rio sudah bangun, dan mulai berisik membangunkan kami bertiga yang masih meringkuk dalam tenda untuk menyaksikan gonden sunrise gunung Prau yang memang luar biasa indahnya, menurut Saya sih lebih indah dibandingkan Sikunir. Saya waktu itu enggan bangun, hanya tiga teman Saya saja yang menyaksikan golden sunrise. Pukul enam pagi barulah Saya keluar dari tenda mengabadikan suasana pagi di puncak gunung Prau. Pemandangan spektakuler di depan mata, si kembar Sindoro-Sumbing dan Merapi-Merbabu seakan menyapa Saya dan teman-teman pendaki lain, Saya beruntung mendapatkan cuaca yang cerah tanpa kabut di pagi ini. Satu jam lebih saya menikmati dan mengabadikan pemandangan di camp area gunung Prau. Yang membuat Saya prihatin masih ada yang tidak membawa turun sampah bekas logistik di area camping ground Gunung Prau.

Landscape Gunung Prau

Landscape Gunung Prau

Full Team

Full Team

berjalan melewati bukit 'teletubies'

berjalan melewati bukit ‘teletubies’

savana (bukit teletubies)

savana (bukit teletubies)

Jam setengah delapan pagi kami packing dan berniat turun lewat jalur Dieng Kulon yang ada puncak menara repeater-nya. Berjalan melewati savana yang luas menyerupai bukit Teletubies, Saya berharap bertemu dengan Tingkywingky dan kawan-kawannya di tengah perjalanan *ngayal. Perjalanan turun melewati bukit teletubies begitu Saya nikmati, di setiap langkah kami berhenti sejenak untuk berfoto dengan latar belakang alam yang sangat indah ini. Jalur Dieng Kulon memang landai tidak seperti jalur Patak Banteng yang menanjak terjal, namun jalur Dieng Kulon ini memakan waktu yang lebih lama karena jalurnya yang memutar butuh waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai camp area. Sesampainya di bawah, tepatnya di desa Dieng Kulon kami mampir mencicipi kuliner khas Wonosobo yaitu Mie Ongklok.

Mie Ongklok khas Wonosobo

Mie Ongklok khas Wonosobo

Me

Me

Pemandangan Gunung Prau di pagi hari

Pemandangan Gunung Prau di pagi hari