B29 SISI LAIN KEINDAHAN PEGUNUNGAN TENGGER

image

Pemandangan indah sepanjang trekking menuju puncakB29

Pegunungan Tengger yang berada di dalam empat kabupaten di Jawa Timur ternyata punya banyak spot untuk di eksplor. Tidak hanya di Probolinggo atau Pasuruan saja kita bisa menyaksikan keindahan gunung Bromo berlatar matahari terbit, di kabupaten Lumajang tepatnya di desa Argosari kecamatan Senduro ada wisata “Negeri di Atas Awan”. Orang lokal menyebutnya dengan bukit 2900 meter di atas permukaan laut biasa disingkat dengan nama B29. Lokasi wisata yang terletak di kawasan TNBTS ini memang sedang “naik daun” di kalangan traveler atau backpacker. Pertengahan Desember 2014 saya berenam dengan rekan kerja mengunjungi B29 tersebut. Kami berenam berangkat dari kota tercinta(Surabaya) mengendarai motor dengan dua motor matic dan satu motor bebek. Berangkat dari Surabaya jam 21.15 WIB dengan memakai ponco karena perjalanan kami ditemani rintik hujan dari Surabaya hingga memasuki kota Pasuruan. Menuju kota Probolinggo kami sudah tidak menggunakan ponco karena hujan sudah reda. Memasuki kota Probolinggo kami mulai mencari lokasi B29 menggunakan GPS yang terpasang di aplikasi smartphone. Sekitar pukul tiga dini hari kami sudah memasuki kawasan Argosari, setelah sebelumnya sempat nyasar dan bertanya pada warga sekitar untuk mendapatkan pencerahan.

image

Menyaksikan sunrise di depan rumah warga

image

Kontur jalan menuju puncak B29

Setengah empat dini hari kami sempat bingung mencari parkir kendaraan. Kami berencana menitipkan kendaraan kami lalu menempuh dengan jalan kaki menuju puncak B29. Karena bukan hari libur kami kesulitan menemukan tempat parkir sebenarnya ada beberapa tempat penitipan kendaraan namun sudah tutup apalagi kami datang pada dini hari. Saya dan teman saya mencoba menaiki motor sampai puncak B29, namun jalanan makin lama makin sadis nanjaknya dan sudah tak beraspal apalagi sebelumnya diguyur hujan bisa bayangin sendirilah. akhirnya di tengah jalan menuju puncak B29 yang tidak tahu seberapa jauh lagi akan sampai kami memutuskan untuk kembali ke bawah dan mengetuk rumah warga untuk menitipkan motor kami bertiga. Di sebuah rumah akhirnya ada seorang bapak-bapak yang keluar dan menanyakan maksud kami. Bapak tersebut bersedia kami titipi motor dan bapak tersebut menawari kami ojek untuk sampai di puncak B29. Kamipun deal menggunakan jasa ojek dengan harga 30ribu sekali jalan yang artinya 60ribu jika pulang pergi. Harga tersebut sudah fix tidak bisa ditawar lagi. Singkat cerita saya hanya naik ojek sampai pos perijinan yang ada portalnya tidak sampai di puncaknya. Kami berenam melanjutkan ke puncak B29 dengan berjalan kaki. Perkiraan waktu trekking sampai di puncak berkisar 30 – 45 menit dari pos perijinan, namun waktu itu ternyata lebih lama karena kami hobi jepret dan narsis sana sini jadilah satu jam perjalanan kami sampai di puncak B29.

image

Hamparan ladang masyarakat Tengger di lereng B29

image

Sunrise di tengah perjalanan menuju B29

image

Pemandangan seperti ini yang membuat rasa lelah hilang

Sampai di puncak bukit 2900mdpl jam setengah tujuh pagi, sunrise sudah kami nikmati saat trekking dari bawah tadi. Beruntunglah langit masih berpihak pada kami sehingga kami bisa dengan leluasa memandangi sekaligus mengabadikan pemandangan alam pegunungan Tengger tanpa terhalang kabut. Gunung Bromo terlihat dengan jelas dari puncak B29. Kaldera pegununggan Tengger nampak lain bila dinikmati dari sisi B29 ini. Beberapa warung tersedia di atas puncak B29, namun kebanyakan tutup mungkin tempat tersebut kurang begitu ramai bila hari biasa. Di sekitar kawasan B29 terdapat beberapa tong sampah, jadi jangan buang sampah sembarangan ya gaeess.

image

image

Foto Keluarga

Setelah beberapa jam menikmati keindahan B29, akhirnya kabut pun datang dengan terpaksa kami berenam memutuskan untuk turun. Perjalanan turun kami putuskan dengan berjalan kaki dari tempat kami memarkirkan motor disalah satu rumah warga, meskipun ada beberapa bapak ojek menawarkan jasa mereka kepada kami. Perjalanan turun menghabiskan waktu satu jam setengah dengan berjalan santai dan ditemani rintik hujan.

image

Salah satu sudut Bromo dari B29

image

Kabut menyelimuti kaldera Bromo

image

Rumah tempat kami menitipkan motor

image

Gapura Desa Argosari

Advertisements

Membuktikan Keindahan Sendang Gile dan Tiu Kelep

image

Speechless

Pagi itu jam 08.00 WITA setelah sarapan dengan sepotong roti dan segelas teh hangat yang disediakan ibu pemilik homestay, Saya bersiap menuju Kecamatan Bayan tepatnya di Desa Senaru Kabupaten Lombok Utara yang berada di kaki Gunung Rinjani. Di kawasan ini terdapat air terjun terindah di Lombok versi Saya.
Berangkat dari Cakranegara yang merupakan pusat Kota Mataram menggunakan motor matic yang Saya sewa di homestay tempat Saya menginap tadi. Perjalanan ke Bayan melewati pesisir pantai di Senggigi, Bukit Malimbu pntai Nipah lalu melewati Pemenang hingga menuju Kecamatan Bayan. Lebih kurang Saya tempuh perjalanan akhirnya sampai juga di depan pintu masuk air terjun Sendang Giledan Tiu Kelep. Walaupun matahari kala itu sangat menyengat namun udara di kaki Gunung Rinjani ini sangat segar dan sejuk bebas dari polusi.

image

Perjalanan menuju Bayan, tampak Rinjani di kejauhan

_DSC0520

Welcome to Waterfall

_DSC0535

Sendang Gile Waterfall

Setelah membayar biaya retribusi sebesar lima ribu rupiah per orang, saya melanjutkan trekking yang tidak sampai sepuluh menit sudah sampai di air terjun Sendang Gile. Tidak terlalu lama Saya di air terjun Sendang Gile ini setelah foto-foto sebentar saya melanjutkan trekking menuju air terjun Tiu Kelep. Saat menuju Tiu Kelep saya melewati jembatan yang sangat curam, setelah melewati jembatan tadi saya berjalan mnyusuri aliran sungai yang sangat jernih yang pangkalnya dari air terjun Tiu Kelep.

Narsis dulu

Narsis dulu

menyeberangi  aliran sungai yang lumayan deras

menyeberangi aliran sungai yang lumayan deras

 

narsis di atas jembatan bersama mbak ndu

narsis di atas jembatan bersama mbak ndu

Waktu saya ke Sendang Gile dan Tiu Kelep jarang saya bertemu wisatawan lokal, mayorits pengunjungnya adalah turis mancanegara. Kebanyakan dari turis tersebut memakai jasa guide lokal, menurut info yang saya dapatkan tarif untuk guide lokal di sini berkisar 60-100 ribu rupiah. Brhubung saya itu turis kere saya tidak menggunakan jasa guide lokal di sini. Jalan menuju ke Tiu Kelep sudah sangat jelas sekali tinggal mengikuti jalan setapak yang telah disediakan dan waktu yang diperlukan cuma lima belas menit-an. Kalau pun takut kesasar bisa cari barengan saja mengikuti rombongan bule šŸ˜€
PerjalananĀ  yang melelahkan tadi akan sirna dengan sendirinya,Ā  karena sampai di Tiu Kelep Saya dihadapkan dengan pemandangan yang spektakuler,fantstis,bombastis seperti kata Tukul Arwana, ya memang begitu adanya pemandangan air terjun Tiu Kelep sungguh indah, namun pengunjung perlu waspada kpda keselamatan diri anda karena aliran sungai sangat deras, kolam di bawah air terjun sangat dalam bagi yang tidak bisa berenang sangat TIDAK disarankan untuk mandi di bawah air terjun. Jika pengunjung ining berfoto dekat air terjun sebaiknya mnggunakan kamera yang water resist, karena air yang jatuh ke bawah berterbangan membuat kamera anda basah sesuai namanya ‘Tiu’ dalam bahasa Sasak berarti kolam sdangkan ‘Kelep’ berarti terbang.
image
image

SUNRISE YANG TERHALANG KABUT DI PENANJAKAN 2

_DSC9948

Lagi-lagi ada saja yang mengajak Saya ke Bromo di awal tahun 2014. Teman kerja Saya yang mengajaknya waktu itu. Bagi Saya sendiri gunung Bromo adalah gunung yang tidak pernah membuat Saya bosan untuk mengunjunginya walaupun sudah berkali-kali Saya ke sana. Bagi teman kerja Saya yang bernama Dimas, perjalanan kali ini adalah kunjungan pertamanya melihat gunung Bromo dari dekat, karena Saya dan empat teman Saya lainnya sudah pernah sebelumnya berkunjung ke Bromo. Kami berangkat berenam dari Surabaya menuju Probolinggo dengan menggunakan motor. Seperti biasa perjalanan kami lakukan pada malam hari untuk mengejar sunrise di penanjakan. Berangkat dari Surabaya pukul sebelas malam, dengan estimasi perjalanan memakan waktu empat jam, kami berharap sampai di Desa Cemoro lawang pukul tiga dini hari. Benar saja kami tiba di pertigaan Tongas,Probolinggo pukul satu lebih empat puluh lima menit setelah sebelumnya diguyur hujan saat melintasi Kota Sidoarjo. Sempat berhenti sebentar di sebuah warung tepat di sebelah masjid sebelum pertigaan Tongas tadi untuk sekedar ngopi dan beristirahat sejenak. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju penanjakan Bromo, rencananya kami akan melihat sunrise di penanjakan 2 Bromo desa Cemoro Lawang. Memasuki Cemoro Lawang kami dihadang oleh bapak-bapak pengemudi hardtop dan langsung ditawari hardtop seharga 600rb rupiah untuk dua lokasi favorit di Bromo yaitu bukit penanjakan dan kawah Gunung Bromo, namun setelah tawar menawar dengan alot akhirnya disepakati dengan harga 400b rupiah untuk dua spot tadi. Sebenarnya supir hardtop tadi menyarankan untuk melihat sunrise di penanjakan 1 namun kami menolaknya dengan alasan sudah pernah ke sana,dan kami memilih melihat sunrise di penanjakan 2. Pukul empat pagi hardtop berangkat menuju penanjakan 2 dengan kondisi jalan yang terjal dan tidak semulus paha Nikita Willy :p . Tiga puluh menit berlalu hardtop yang kami naiki sampai di pemberhentian terakhir di penanjakan 2 selanjutnya kami berlima harus jalan kaki untuk sampai Sruni Point, titik tertinggiĀ  untuk menyaksikan matahari terbit di penanjakan 2.
_DSC9868 _DSC9872
Berjalan sekitar lima belas menit(itu sudah termasuk foto-foto narsis lhoo) kami sampai di Seruni Point. Pagi itu sangat sepi hanya ada dua orang saja yang menggelar dagangannya dan tidak ada jasa rental kuda karena kami ke sana weekday bukan weeend jadi mayoritas wisatawan di Bromo ya orang bule. Tapi saya sangat senang karena dapat menikmati pemandangan alam dengan leluasa pagi itu, sayangnya kabut tebal yang disertai gerimis pagi itu menghalau sinar matahari yang hendak terbit. Pemandangan berkabut membuat kami tidak berlama-lama di penanjakan 2 ini, pukul setengah tujuh kami melanjutkan perjalanan menuju hamparan pasir Gunung Bromo dan Gunung Batok.

Pagi yang berkabut

Pagi yang berkabut

Sekitar lima belas menit perjalanan menggunakan hardtop dari penanjakan 2 kami sampai di area lautan pasir Gunung Bromo, kami berlima langsung disambut ‘satria’ berkuda. Tarif sewa kuda untuk mengantar anda ke anak tangga menuju Kawah Bromo berkisar 30-50 ribu rupiah tergantung keahlian anda dalam tawar menawar. Namun kami berlima tidak ada yamg menggunakan jasa kuda tersebut, kami lebih suka berjalan kaki karena lebih sehat alias ngirit šŸ˜€ .

There's no sunrise

There’s no sunrise

Saya berngkat menuju kawah Gunung Bromo sendirian karena empat teman saya sudah diserang rasa lelah plus ngantuk. Di kawasan padang pasir Bromo ini didominsi oleh wisatawan mancanegara, karna memang bukan weekend saya ke sini jadi hanya sedikit wisatawan lokal yamg berkunjung. Setelah sampai di puncak Gunung Bromo saya langsung turun karena bau asap belerang yang begitu menyengat dan membuat sulit bernafas.

Berikut ini adalah foto kenang – kenangan dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, silahkan menikmati:)

_DSC9896

Semburat jingga yang tertutup kabut, namun tetap indah

Misty Bromo

Misty morningĀ  Bromo

masih berkabut

masih berkabut šŸ˜¦

ray of light

ray of lightĀ 

ray of light

Sinar mntari mncoba menembus kabut

_DSC9936

Narsis waktu turun dari Penanjakan 2

_DSC9944

_DSC9953

empunya blog